Bom Meledak Di Gereja Samarinda Lukai Anak Anak, Wahai Para Ulama MUI & FPI Dimana Suaramu


Akun FB Yusuf Muhammad geram sekali dengan aksi barbar yang dilakukan oleh mantan napi teroris di gereja oikumene samarinda

Sebagaimana diketahui, hari ini telah terjadi peledakan dengan bom molotov di gereja oikumene samarinda yang melukai 4 balita tak berdosa

Kejadian ini membuat yusuf muhammad murka kepada Ulama MUI, FPI dan juga terhadap umat muslim anti ahok yang pada tanggal 4/11/2016 lalu berbondong bondong datang ke jakarta untuk mendemo Ahok

Yusuf Muhammad mempertanyakan pada kemana Ulama MUI, FPI disaat ada ledakan di gereja oikumene samarinda ini kenapa suara mereka sama sekali tidak terdengar sama sekali ikut mengecam?

yusuf muhammad membuat postingan berisi kritikan pedas kepada ulama MUI

Berikut ini kutipan lengkap yusuf muhammad yang dikutip martirnkri.com lewat akun facebooknya:

Wahai para MUI, Kyai, Ulama, Habib, Ustad, FPI dan apalah pokoknya yang yang pinter2 dan paling jago dalam beragama.

Coba tunjukkan sikap tegas kalian semua, jika ada peledakkan bom di Gereja Samarinda yang pelakunya mengatasnamakan ajaran islam, membawa-bawa nama islam, mengatasnamakan "jihad", dan korbanya anak-anak, 

Apakah yang seperti demikian tidak menistakan agama dan merusak nama islam?

Bukankah islam itu "rahmatan lillalamin"?

Jangan hanya bungkam dan sibuk berpolitik. Kalian pemimpin umat, membawa nama umat, pewaris ajaran Nabi yang penuh rahmat, penuh kasih sayang, dan kedamaian.

Jangan cuma lantang pada hal- hal yang berba
politik. Jangan bungkam karena tidak ada uang. 

Jangan gadaikan integritas sebagai pemimpin umat. Saya muak dengan perilaku-perilaku pengeboman kelompok radikal yang selalu mengatasnamakan islam.

Ayo terutama yang demo demo kemaren pada Jum'at 4/11, mana suara kalian semua?

Lihatlah korbanya anak- anak kecil yang masih polos tak berdosa. Jangan tutup mata, jangan bungkam dan jangan pura- pura tuli terhadap faham radikalisme sesat yang mengatasnamakan islam.

Pelaku ngebom pakai nama islam.

Pelaku ngebom pakai ajaran islam.

Pelaku ngebom pakai nama jihad.

Pelaku ngebom pakai takbir.

Apakah yang seperti ini harus dibiarkan dan dibela?

Apakah yang seperti ini dikatakan jihad fisabilillah?

#SayNoToRadicalism

#SayNoToTerrorism

Postingan Yusuf muhammad ini membuat pengguna facebook lainnya merasa tergugah dan membagikan postingannya sebanyak banyaknya

Hingga berita ini diturunkan oleh tim martirnkri.com, postingan yusuf muhammad yang berisikan pedas terhadap MUI yang dia anggap terlalu sibuk ngurusin politik ketimbang bersimpati terhadap korban peledakan bom molotov di gereja oikumene samarinda sudah dibagikan 3.285 kali oleh pengguna facebook dan sepertinya jumlah yang share terus bertambah

Sumber : MARTIRNKRI & FB Yusuf Muhammad

Habib Acin Muhdor: Dulu Politik Uang, Kini Politik Ayat



Ada politik di setiap langkah kita, harusnya itu disadari. Supaya tak kagetan menyikapi politik di luar diri kita. Beberapa aktor politik yang sedang diuji dengan popularitas yang "parsial", dimanfaatkan untuk mengelabui opini demi beberapa tujuan.

Awalnya kita hanya memahami bahwa sebagian besar gerak politik hanya untuk mengeruk uang, di situ "uang" menjadi "alat" sekaligus "tujuan", tentunya ditopang oleh mediasi yang lebih besar yaitu "kekuasaan".

"Politik uang" dalam waktu sekejap berubah menjadi "politik ayat". Kalian saudara-saudara non-muslim berusaha dilibatkan dalam hal ini.

Dan saya melihat ketangguhan dalam diri kalian, saya bangga dengan kalian. Masih banyak yang dapat melihat peristiwa secara menyeluruh. Tetap bertahan dalam kebaikan dan toleransi. Hati-hati, jangan terpengaruh. Saya lanjutkan.

Genosida mental paling ampuh jika dibenturkan dengan konflik antar agama. Ada yang mengharapkan kita perang. Sadari, ada yang menginginkan Indonesia hancur dan bertekuk lutut di hadapan tirani modal dunia.

Saya teringat konsep "Divide et Impera" atau "politik pecah belah". Awalnya, strategi politik ini merupakan kombinasi dari tujuan politik, militer, dan ekonomi. Saat ini kita menghadap ke arah yang sama dengan unsur-unsur yang berbeda. "Agama" menjadi pilihan, karena ia adalah unsur paling reaktif.

Politik pecah belah terus eksis, kita semua; saya, anda, kaum muslimin, kaum nasrani, kaum atheist dan seluruh masyarakat. Kita menghadap kepada dinding politik pecah belah antar umat manusia.

Ketika politik ada di setiap langkah kita, begitu juga agama, ada agama di rumah kita dan di rumah tetangga kita. Harusnya sudah tak perlu gerah menyikapi agama di luar kita. Kita terpaksa mencampur adukkan antara politik dengan agama karena ulah beberapa orang bertopeng Tuhan yang mengganti fungsi libidonya dengan hasrat kekuasaan.

Untuk saudara seiman dan seluruh sahabat-sahabat Nasrani, Hindu, Budha, dan semua umat manusia. Saya ingatkan, ada beberapa prinsip mendasar dalam berkebangsaan; prinsip ke-Tuhan-an, prinsip kemanusiaan dan prinsip Ke-Indonesia-an.

 Saat ini kita sedang berusaha ditarik mundur ke masa kegelapan, saat di mana agama harus menjadi senjata untuk menumpaskan pemimpin yang sah secara konstitusional.

Tulisan ini jangan dipahami sebagai bentuk pembelaan kepada seorang aktor politik atau bentuk perlawanan kepada lawan politik pemerintahan yang sah. Ini merupakan ajakan berpikir logis yang siapa pun boleh terima boleh tidak. Dan ini bagian dari cara berprinsip dalam berkebangsaan.

Sadari, kita sedang diperalat untuk saling bermusuhan, untuk saling merampas hak yang seakan-akan hak itu pernah kita miliki atau harus kita miliki. Padahal hak yang paling jelas dalam hidup berkebangsaan adalah "hak berprinsip". Hak berprinsip adalah hak mutlak setiap manusia. Bahkan Tuhan pun tak mau ikut campur dalam hal ini, apalagi negara.

Sahabat-sahabat non muslim, pahami bahwa lawan dari "Muslim" adalah "Non Muslim" (bukan kafir). Karena lawan dari "kafir" adalah "mukmin". Dan saat ini umat Islam di Indonesia belum dianugerahi banyak "mukmin" yang mampu merepresentasi nilai-nilai ke-Islam-an bangsa ini. Jangan merasa tersudutkan dengan stigma sesat yang menyesatkan kalian.

Umat Islam di Indonesia berada di ujung jurang kehancuran, karena nilai-nilai toleransi yang seharusnya terang benderang, harus redup tergerus gergaji politik berjubah agama. Kita harus selalu sadar bahwa tidak ada yang mampu membendung "gerakan politik" kecuali sikap yang diawali oleh "kesadaran politik".

Kesadaran politik bukan hal yang sulit dicapai, hanya perlu sedikit kepedulian terhadap beberapa prinsip berkebangsaan. Apabila anda sulit menerima orang lain karena dia tidak seiman, maka pandang lah orang lain dengan prinsip keindonesiaan.

Apabila itu masih sulit, pandanglah orang lain dengan prinsip kemanusiaan. Di situ akan tampak, mana yang masih "manusia" dan mana yang sudah pensiun dari jabatan resminya sebagai manusia.

Apabila ini tidak diperhitungkan, kita akan menerima hukuman semesta berupa kehancuran massal antar umat beragama, yang pada akhirnya merusak seluruh nilai positif yang pernah kita jaga, yang pernah susah payah diperjuangkan oleh leluhur bangsa ini, yang nama mereka akan selalu terpatri dalam wajah sejarah bangsa. Atau, kita akan menduduki posisi sebagai generasi yang mencoreng kening sejarah.

Dan secara sadar, sama saja kita menyerahkan bangsa yang besar ini kepada tangan kotor yang telah lama menanti rontoknya seluruh prinsip mulia bangsa ini.

Bencana kita saat ini :
Bukan soal kebenaran
Bukan soal agama
Bukan soal ayat
Bukan soal kitab suci
Bukan soal yang tampak

SALAM TOLERANSI!!!
Assalamualaikum wr.wb.
Salam sejahtera untuk kita semua. (ed)

Source : Perangdingin.com

Via : http://www.muslimoderat.net/2016/11/habib-acin-muhdor-dulu-politik-uang.html#ixzz4Q34yrFOD

Surat Terbuka untuk Aa Gym, MUI, 'Jangan Hambat Kami untuk Dapatkan Gubernur Bersih dan Transparan'





 Kepada Aa Gym, Ketua MUI, Kepada Ustadz yang selama ini kami muliakan. Penampilan tokoh agama, meski nampak SEJUK, tidaklah berarti bahwa pesan yang disampaikannya membawa kesejukan. 

Sebaliknya, penampilan Pak Ahok, meski kerap dikatakan PANAS, juga tidaklah berarti bahwa kinerjanya membuat hati panas. Saya sungguh penat menyimak statement yang kerap disampaikan oleh sebagian tokoh yang menganggap dirinya ulama. Jika ada seseorang dipidanakan karena mencemarkan nama baik, tentu ada sosok jelas yang merasa dicemarkan. 

Lalu jika seseorang, dianggap menistakan AGAMA, dan dipaksa untuk dipidanakan, maka saya bertanya, siapakah sosok yang berhak mewakili AGAMA itu? Jika kalian semua, yang selama ini gencar menyuarakan bahwa Pak Ahok menista agama, hanya karena pemahaman Anda yang berbeda, berhak kah kalian mewakili AGAMA yg merasa dinistakan, sementara di sudut lain, masih banyak penganut agama tersebut yang tidak merasa dinistakan. 

Saya capek Aa, saya capek Ustaz, mengapa kalian menghambat hak kami untuk mendapat Gubernur DKI yg BERSIH, TRANSPARAN, dan PROFESIONAL? Kalian menganggap bahwa menegakkan keadilan itu adalah MEMENJARAKAN Pak Ahok, dan tidak mau menerima bentuk lain dari sebuah keadilan. 

Saya yakin bahkan kalian sedang meruntuhkan keadilan itu sendiri. Pak Ahok lahir di Indonesia, dan juga Warga Negara Indonesia. Jika kalian bersikap adil, tentu kalian mengizinkan semua WNI untuk menjadi pemimpin negeri ini, sepanjang memenuhi syarat dan memiliki potensi. Kalian berdalih di balik Kitab Suci, padahal Allah yang mewahyukan Kitab Suci adalah Mahaadil, dan mustahil membuat sebuah peraturan yang mencederai keadilan itu sendiri. 

Kajilah dengan ikhlas, apa makna AWLIYA, dalam ayat2 yang tercantum pada Kitab Suci. Karena tidak ada satu pun ahli tafsir yang menerjemahkan itu sebagai PEMIMPIN. Hanya, dan sekali lagi, Hanya di Indonesia, penafsirannya dibuat menjadi PEMIMPIN.

Saya pun meyakini, Kitab Suci tak mungkin multitafsir, karena itu akan membingungkan. Yang ada hanyalah manusia nya yang multipikir. Pikiran kalian tidak sama dengan pikiran kami. Kalian menistakan hak kami untuk mendapat pemimpin bersih dari korupsi. 

Pendapat kalian menyenangkan kaum koruptor, karena mereka tahu bahwa bangsa ini masih menganggap AGAMA adalah identitas dalam KTP. Sekotor apa pun perbuatan koruptor, tetap dianggap BERIMAN, karena yang kalian nilai bukan AMAL / PERBUATAN, tapi KTP. 

Sebaliknya sebaik apa pun yang Pak Ahok lakukan, tetap tak mendapat penilaian positif, karena sekali lagi, kalian tidak melihat perbuatan, tetapi melihat identitas KTP. 

Saya bangga, jika umat Islam bersatu padu menumpas kebatilan. Tetapi hari ini saya menangis, karena persatuan umat telah dimanfaatkan semata untuk tujuan politik, untuk memenangkan seseorang dan membungkam seseorang lainnya. 

Biarkan warga Jakarta memilih, demi menjaga KEAMANAN Jakarta dari cengkeraman koruptor. Biarlah untuk KEIMANAN, kami punya penjaga tersendiri. 

Kepada Presiden Joko Widodo, Kepada Kapolri Tito Karnavian, tolong dengarkan suara kami juga. Meskipun kami tak pandai menafsirkan Kitab Suci, tapi kami yakin masih ada orang pandai yang ikhlas menafsirkan sesuai kebenaran. (fb grup save ahok, ditulis oleh Wulan Murad)

Sumber: http://www.indoheadlinenews.com/2016/11/menggetarkan-hati-surat-terbuka-untuk.html

Benarkah Ustadz yang Bikin Sayembara Bunuh Ahok dan Berhadiah 1 Milyar adalah Kader Demokrat?? Lihat Fotonya dan Baca Di Sini



Telah beredar video seorang ustadz yang meminta bagi siapapun yang bisa membunuh Ahok akan mendapat imbalan uang sebesar 1 milyar. Uang tersebut katanya didapat dengan menjual rumah seharga10 milyar, entah benar atau tidak uang tersebut hasil dia menjual rumah. Videonya menjadi viral dan heboh di medsos.

Kini beredar foto seseorang yang mirip dengan orang tersebut berada di belakang seorang wanita yang membawa poster pasangan cagub dan cawagub nomer 1, Agus Yudhoyono dan Sylvia Murni. Sepertinya foto tersebut terjadi saat pengambilan nomer urut di Jiexpo Kemayoran.

Jika dilihat dari penampilannya sepertinya pak Ustadz tersebut adalah kader Demokrat. Berbaju koko putih, ada tali berwarna biru yang mengalungi lehernya,menggunakan pin atau bros di pecinya.Lihat persamaan pakaian pada foto ini:


Lihat foto yang ada tanda panah ini : 



Jadi,benarkah ustadz tersebut yang menginginkan Ahok dibunuh dengan imbalan 1 milyar adalah orang yang sama yang ada di foto tersebut? Benarkah dia kader Demokrat? 

Sungguh amat sangat memalukan hal itu terjadi, sungguh sangat melecehkan demokrasi. Dan juga ternyata seorang provokator....???

Mana Yang Lebih Menistakan Agama, Apakah Ahok, Aa Gatot, atau Dimas Kanjeng?




AHOK DAN KAUM MUSLIM PELANGGAR SUMPAH AL-QUR'AN. Saya mencoba untuk membuka nalar dan wawasan pikiran kita masing-masing. Siapa sih sebenarnya perusak dan penista agama?

Aa Gatot mendirikan padepokan tapi justru menipu para pengikutnya. Pengikutnya kadang diajak ngaji, sholat dan juga diajak ngesex ramai-ramai, hingga dicekokin sabu alias asmat (asap nikmat) yang katanya makanan Jin Jun dan Jan. Harus diakui banyak yang akhirnya percaya dan terpedaya karena adanya bumbu-bumbu ritual agama.

Kanjeng Dimas Taat Pribadi juga mendirikan Padepokan dan dipercaya mampu menggandakan uang. Dengan berkedok istighosa, sholawat, dan hal-hal yang dibumbui dengan ritual agama maka para pengikutnya jadi makin percaya kalau Taat Pribadi memiliki karomah serta mampu menggandakan uang.

Muhammad Susilo Wibowo alias Ustadz Guntur Bumi, dengan bermodalkan dalil-dalil dan ayat-ayat yang keluar dari mulut manisnya, serta semburan air minum yang dibacakan 'mantra' maka dia pun mampu menipu para pasienya. Uang pun menjadi pundi-pundi penghasilan melalui penipuan yang dilakukan dengan modus pengobatan.

Said Agil Husin Al Munawar, mantan menteri Agama RI diera Megawati, dia disumpah atas nama Al-Qur'an namun ia justru menjadi terdakwa kasus korupsi Dana Abadi Umat dan Biaya Penyelenggaraan Haji. Diduga kerugian negara mencapai Rp 719 miliar.

Surya Darma Ali (SDA), mantan Menteri Agama RI diera SBY, dia disumpah atas nama Al-Qur'an namun ia justru terjerat kasus korupsi dana ibadah Haji dan divonis penjara. Ahmad Jauhari, pejabat di kemenag juga di vonis hukuman 13 tahun karena terjerat korupsi pengadaan Al-Qur'an.

Lutfi Hasan Ishaaq presiden partai Islam (PKS ), sebagai pimpinan partai Islam ia juga terjerat kasus korupsi pengadaan kuota impor daging Sapi. Kerugian negara pun mencapai RP 1Triliun dan Ia telah divonis 16 tahun penjara diera pemerintahan SBY.

Baru-baru ini seorang perempuan berinisial ED, ketua pengadilan Agama kota Padang Panjang kepergok oeprasi pekat oleh satpol PP setempat. ED tertangkap basah tengah 'asik' berdua bersama laki-laki yang bukan suaminya di kamar hotel di kawasan Bukittinggi.

Ahok Gubernur DKI Jakarta, ia telah menertipkan prostitusi, lokalisasi, pungli, bangunan liar ilegal, membersihlan kali dan sungai dengan mengerahkan anak buahnya, menutup Diskotik megah, memberangkatkan umrah para penjaga Musholah, rutin menyumbang hewan sapi dihari Idul Qurban, rajin bersedekah dan rutin mengeluarkan zakat menjelang Idul Fitri (meskipun tdk dianggap zakat).

Tapi Ahok ngomongnya juga suka ceplas ceplos, kadang kasar (kalau sama maling dan begal anggaran). Baru-baru ini Ahok dianggap melakukan penistaan terhadap agama islam terkait surat Al-Ma'idah ayat 51.


Ketika di acara ILC tv One Selasa (11/10) malam dengan tema "Setelah Ahok Minta Maaf", tanpa kehadiran Ahok, segerombolan makhluk MUI berjubah pun menghakimi dan menafsirkan perkataan Ahok seenak mulutnya sendiri, dengan modal selembar tulisan berisi fatwa maka Ahok pun diberi 'stempel' telah melecehkan ayat Allah, Ahok dianggap menuduh para ulama yang mengajarkan Al-Ma'idah 51 telah berbohong, atas dasar itu maka ada yang berpendapat Ahok harus dihukum mati, dipotong tanganya dan kakinya dan diusir dari Indonesia.

Saya mau tanya, jadi yang penista agama dan perusak nilai-nilai ajaran islam itu Ahok atau kaum muslim yang telah melanggar sumpah atas nama Al-Qur'an?


Ahok adalah non muslim, meskipun 9 tahun pernah sekolah islam dan punya ibu angkat muslim (almarhumah), namun tentu pemahamanya tentang islam tidak sedalam seperti para ulama² berjubah. Bagi saya Ahok jauh lebih mulia daripada para pejabat pelanggar sumpah atas nama Al-Qur'an. Bagi saya Ahok lebih mulia daripada mereka yang paham Al-Qur'an tapi suka menipu dan menyesatkan.
Jika Ahok yang telah mintak maaf secara terbuka harus dihukum mati, dipotong tangan dan kakinya, tapi mengapa terhadap orang2 yang jelas telah melanggar sumpah atas nama Al-Qur'an dan menjadikan ayat suci serta dalil-dalil sebagai lahan untuk kepentingan pribadi mereka bungkam?

Ah tidak heran jika Gus Mus pernah bertanya, "MUI itu makhluk apa?"

Sumber: http://www.indoheadlinenews.com/2016/10/mana-yang-lebih-menistakan-agama-apakah.html

Buya Syafii Maarif: Ahok Tidak Menghina Al-Quran, Ahok Hanya Kritik Orang yang Gunakan Surat Al Maidah Ayat 51


Sekiranya saya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, yang menghebohkan itu, substansi tulisan ini semestinya sudah disampaikan saat Karni Ilyas, Presiden Lawyers Club, mengundang saya pada 11 Oktober 2016 melalui studio Yogyakarta.
Karena semula audio-visual TVONE dari Yogya beberapa saat tidak berfungsi, sehingga saya tidak sempat mengikuti fatwa MUI yang juga dibacakan dengan penuh emosi malam itu. Baru belakangan saya dapat membaca isi fatwa itu melalui internet. Dalam fatwa itu jelas dituduhkan bahwa Ahok telah menghina al-Qur’an dan menghina ulama dan harus diproses secara hukum. Tetapi malam itu, akal sehat saya mengatakan bahwa Ahok bukan orang jahat yang kemudian ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan. 

Yang menghujat saya cukup banyak, yang membela pun tidak kurang. Semua berdasarkan fatwa MUI yang tidak teliti itu. Semestinya lembaga sebagai MUI mestilah menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggung jawab. Dari berbagai sumber yang dapat ditelusuri via internet, keterangan lengkap Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016 adalah sebagai berikut: “Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pakai surat al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya…” 

Perhatikan dengan seksama kutipan ini, apakah memang terdapat penghinaan terhadap al-Qur’an? Hanya otak sakit sajalah yang berkesimpulan demikian. Apalagi jika sampai menista Langit., jauh dari itu. Perkara dikesankan menghina ulama, saya tidak perlu bicarakan di sini, karena memang dalam sejarah Muslim sering bermunculan ulama jahat, penjilat penguasa dengan fatwa-fatwa murahannya. 

Pokok masalah di sini adalah pernyataan Ahok di depan publik di sana agar “jangan percaya sama orang…karena dibohongin pakai surat surat al-Maidah 51.” Ahok sama sekali tidak mengatakan bahwa surat al-Maidah 51 itu bohong. 

Yang dikritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya. Bung Zuhairi Misrawi dalam pembicaraan telepon dengan saya pada 3 Nopember 2016 mengatakan bahwa di beberapa masjid di Jakarta sudah lama dikobarkan semangat agar rakyat tidak memilih Ahok dalam pilkada 2017 karena dilarang oleh ayat di atas. 

Bagi saya, apakah Ahok terpilih atau tidak terpilih bukan urusan saya. Itu sepenuhnya urusan para pemilih DKI. Saya tidak akan memasuki perang penafsiran tentang ayat itu. Pusat perhatian tulisan ini adalah bahwa tidak benar Ahok telah menghina al-Qur’an berdasarkan kutipan lengkap keterangannya di Pulau Pramuka di atas. 

Fatwa gegabah MUI ini ternyata telah berbutut panjang. Demo 4 Nopember 2016 adalah bentuk kongkretnya. Semoga demo itu akan berlangsung tertib, aman, dan damai. Tetapi jika terjadi insiden yang tidak diinginkan, MUI harus bertanggung jawab, karena gara-gara fatwanya, demo itu digelar. Kelompok garis keras merasa dapat amunisi untuk tujuan duniawinya. 

Kekerasan telah jadi mata pencarian. Adapun beberapa politisi yang membonceng fatwa ini, itu bukan untuk mencari kebenaran, tetapi semata-mata untuk mendapatkan keuntungan politik kekuasaan dalam rangka pilkada DKI Feb. 2017. 

Apakah kita mau mengorbankan kepentingan bangsa dan negara itu akibat fatwa yang tidak cermat itu? Atau apakah seorang Ahok begitu ditakuti di negeri ini, sehingga harus dilawan dengan demo besar-besaran? 

Jangan jadi manusia dan bangsa kerdil! Tulisan yang senada dengan ini dapat dicari di internet, seperti ditulis oleh Ahmed Zainul Muttaqien di bawah judul: “Soal Kalimat Ahok,” dan tiga artikel Zuhairi Misrawi dengan beberapa judul yang saling berkaitan.

Polisi: Mario Teguh Akui Ario Kiswinar Adalah Anaknya




Polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap Mario Teguh, beberapa waktu lalu terkait laporan pencemaran nama baik Aryani, mantan istrinya. Dalam pemeriksaan tersebut, motivator kondang itu akhirnya mengakui bahwa Ario Kiswinar Teguh adalah anaknya.

"Pak Mario Teguh mengatakan bahwa si Ario Kiswinar adalah putra dari hasil perkawinan dia dengan Bu Aryani," ujar Kasubdit Resmib Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Budi Hermanto kepada detikcom, Senin (14/11/2016).

Budi mengatakan, dalam pemeriksaan tersebut Mario dicecar 41 pertanyaan. "Inti pertanyaan seputar apakah Ario Kiswinar putra kandungnya, terus bagaimana dengan Mr X, kita pertanyakan apa yang disampaikan oleh yang bersangkutan," ucapnya.

Budi mengungkapkan, pernyataan Mario itu dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). "Iya dia sampaikan dalam BAP. Pokoknya dalam BAP dia menyampaikan bahwa Ario Kiswinar itu anak antara Mario Teguh dan Aryani, mengakui," tegas Budi.

Meski sudah ada pengakuan, namun polisi tidak bisa serta merta meningkatkan status Mario. Polisi selanjutnya akan melakukan tes DNA untuk memastikan bahwa Mario dan Ario memiliki hubungan ayah dan anak.

"Tapi kita harus buktikan itu dengan DNA, disamping karena kedua pihak meminta tes DNA maka akan kita lakukan tes DNA," ungkapnya.

Tes DNA telah dilakukan 8 November lalu di kantor DVI (Disaster and Victim Identification). "Hasilnya paling lambat satu bulan lagi keluarnya," imbuhnya.

Meski hasil tes DNA menunjukkan bahwa keduanya identik (memiliki hubungan darah), Budi mengatakan "Pak Mario Teguh tidak ada masalah, memang dia mengakui itu anaknya." 
(mei/rvk)
Sumber: http://news.detik.com/berita/d-3344464/polisi-mario-teguh-akui-ario-kiswinar-adalah-anaknya